Arti Istilah Di Bawah Tangan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Dirangkum pada hari Rabu 18 September 2019 oleh Staf


Di bawah tangan memiliki 2 arti. Di bawah tangan berasal dari kata dasar di bawah. Arti dari di bawah tangan dapat masuk ke dalam jenis kiasan sehingga penggunaan di bawah tangan dapat bukan dalam arti yang sebenarnya. Di bawah tangan berasal dari kata dasar tangan.

Arti di bawah tangan

Dasar: di bawah
Bidang: -
Jenis: kiasan
Kelas: -
Ragam: -
Lain: -
Arti: Di bawah tangan berarti tidak secara resmi atau umum (tentang penjualan, pelelangan, dan sebagainya)

Dasar: tangan
Bidang: -
Jenis: kiasan
Kelas: -
Ragam: -
Lain: -
Arti: Di bawah tangan berarti tidak di muka umum (tentang pemborongan). Di bawah tangan juga berarti tidak dilaksanakan secara resmi atau tidak disaksikan oleh pihak resmi (tentang perkawinan dan sebagainya). Di bawah tangan juga berarti di bawah kekuasaan (pemerintah) orang

Peribahasa dengan kata di

Air susu dibalas dengan air tuba berarti kebaikan dibalas dengan kejahatan


Seperti abu di atas tanggul berarti tidak tetap kedudukannya (sewaktu-waktu dapat dipecat dan sebagainya)


Seperti disalak anjing bertuah berarti tidak dapat bertangguh lagi


Ada beras, taruh dalam padi berarti rahasia hendaklah disimpan baik-baik


Ada padi segala menjadi berarti orang kaya dapat mencapai apa yang diinginkannya


Ada ubi ada talas, ada budi ada balas berarti kejahatan dibalas dengan kejahatan, kebaikan dibalas dengan kebaikan. Ada ubi ada talas, ada budi ada balas juga berarti barang siapa yang berbuat sesuatu tentu akan mendapat balasan yang setimpal


Ada udang berudang di balik batu berarti ada suatu maksud yang tersembunyi


Adapun manikam itu jika dijatuhkan ke dalam limbahan sekalipun, niscaya tidak hilang cahayanya berarti orang yang asalnya baik jika ia miskin ataupun menjadi suruhan orang, tabiatnya, kelakuannya, dan budi bahasanya tetap baik


Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah berarti pekerjaan (perbuatan) hendaklah selalu mengingat aturan adat dan agama (jangan bertentangan satu dengan yang lain)


Adat diisi janji dilabuh berarti adat harus dijalankan, persetujuan harus ditepati


Adat diisi, lembaga dituang berarti melakukan sesuatu menurut adat kebiasaan


Air di daun keladi daun keladi dimandikan berarti sukar diajar atau dinasihati


Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam berarti tidak enak makan dan minum (karena terlalu sedih dan sebagainya)


Akik disangka batu berarti merasa terhina karena salah sangka


Alah di rumpun betung berarti kekalahan yang tidak memuaskan pihak yang kalah


Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit berarti sudah tidak dapat didamaikan lagi (tentang perselisihan). Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit juga berarti tidak mau berbalik. Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit juga berarti tidak dapat ditawar lagi (tentang aturan)


Amra disangka kedondong berarti sesuatu yang baik disangka buruk


Anak badak dihambat-hambat berarti dengan sengaja mencari bahaya


Anak dipangku dilepaskan, beruk dalam rimba disusukan disusui berarti selalu membereskan (memikirkan) urusan orang lain, sedangkan urusan sendiri diabaikan


Anak sendiri disayangi, anak tiri dibengkengi berarti bagaimanapun adilnya seseorang, kepentingan sendiri juga yang diutamakan


Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam berarti rahasia tidak selamanya dapat disembunyikan, akhirnya akan terbuka juga


Anjing ditepuk menjungkit ekor berarti orang hina (bodoh, miskin, dan sebagainya) kalau mendapat kebesaran menjadi sombong


Anjing menyalak di ekor pantat gajah berarti orang hina (lemah, kecil) hendak melawan orang berkuasa


Apa gunanya kemenyan sebesar tungku kalau tidak dibakar berarti tidak ada gunanya ilmu pengetahuan yang disimpan saja kalau tidak diajarkan kepada orang lain atau tidak dipraktikkan (tidak dimanfaatkan)


Arang itu jikalau dibasuh dengan air mawar sekalipun, tiada akan putih berarti tabiat orang yang dasarnya sudah buruk, tidak akan dapat diperbaiki lagi


Asal ada sama di hati, gajah terantai boleh dilepaskan berarti kalau sudah ada persetujuan, apa pun halangannya dapat diatasi


Asam di darat, ikan di laut garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga berarti laki-laki dan perempuan kalau jodoh bertemu juga akhirnya


Aur ditanam, betung tumbuh berarti mendapat untung (laba) banyak


Aur ditarik sungsang berarti banyak sangkut-pautnya sehingga sukar dilaksanakan


Ayam bertelur di padi berarti hidup senang dan mewah


Ayam ditambat disambar elang berarti malang sekali. Ayam ditambat disambar elang juga berarti bernasib buruk


Bagai guna alu sesudah menumbuk dicampakkan berarti dihargai sewaktu diperlukan, setelah tidak berguna lagi dibuang


Bagai air di daun talas berarti selalu berubah-ubah (tidak tetap pendirian)


Bagai ayam dibawa kelampok berarti keheranan melihat sesuatu


Bagai belut digetil ekor berarti lancar (cepat sekali)


Bagai belut diregang berarti seseorang yang tinggi kurus


Bagai bertanak di kuali berarti bermurah hati kepada orang lain sehingga mendatangkan kesusahan kepada diri sendiri


Bagai berumah di tepi tebing berarti selalu tidak aman hatinya


Bagai dekan di bawah pangkal buluh berarti seseorang yang pandai menyimpan rahasia


Bagai dientak alu luncung berarti dialahkan oleh orang lemah (bodoh)


Bagai empedu lekat di hati berarti sangat karib, tidak terceraikan (tentang persahabatan, orang yang berkasih-kasihan, dan sebagainya)


Bagai gadis jolong bersubang berarti sombong atau sangat riang (karena baru saja menjadi kaya, berpangkat tinggi, dan sebagainya)


Bagai galah di tengah arus berarti menggigil keras


Bagai galah di tengah arus berarti selalu berkeluh kesah (gelisah dan sebagainya)

Bagai galah dijual berarti sudah habis hartanya (untuk berjudi dan sebagainya)


Bagai geluk tinggal di air berarti orang yang hanya menunggu bantuan orang lain


Bagai getah dibawa ke semak berarti makin kusut (tentang perkara)


Bagai jawi ditarik keluan berarti menurut saja (karena tidak dapat melawan)


Bagai kacang direbus satu berarti melonjak-lonjak kegirangan


Bagai kambing dibawa ke air berarti enggan sekali mengerjakan suatu pekerjaan


Bagai kapas dibusur berarti putih bersih


Bagai kerakap tumbuh di di atas batu, hidup enggan mati tak mau berarti hidup dalam kesukaran (kemelaratan) terus-menerus


Bagai kucing dibawakan lidi berarti sangat ketakutan


Bagai langau di ekor gajah berarti selalu tunduk kepada kemauan orang besar atau orang pandai


Bagai menggenggam bara, terasa hangat dilepaskan berarti melakukan suatu pekerjaan setelah mendapatkan kesukaran, pekerjaan itu ditinggalkan


Bagai pahat, tidak ditukul tidak makan berarti orang yang hanya mau bekerja apabila diperintah


Bagai pimping di lereng berarti orang yang tidak berpendirian tetap


Bagai pintu tak berpasak, bagai perahu tak berkemudi berarti sesuatu yang membahayakan


Bagai pucuk enau dilancarkan diluncurkan berarti sangat lancar. Bagai pucuk enau dilancarkan diluncurkan juga berarti cepat sekali


Bagai pucuk pisang didiang berarti lemah sekali. Bagai pucuk pisang didiang juga berarti tidak bertenaga


Bagai rambut dibelah tujuh seribu berarti sedikit (kecil) sekali


Bagai tanduk bersendi gading berarti jodoh yang tidak sepadan


Bagai tanduk diberkas berarti sangat sukar untuk disatukan (karena tidak sepaham atau sependirian)


Bagai unta menyerahkan diri berarti amat patuh menurut perintah. Bagai unta menyerahkan diri juga berarti mengaku salah dan bertobat. Bagai unta menyerahkan diri juga berarti menyerah dan menurut


Bagaimana ditanam, begitulah dituai berarti seseorang akan mendapat balasan seperti yang diperbuatnya


Baik berjagung-jagung sementara padi belum masak berarti lebih baik dipakai dulu yang ada sementara yang baru belum didapatkan


Bajak selalu di tanah yang lembut berarti orang yang selalu menderita adalah orang yang lemah


Baju indah dari balai, tiba di rumah menyarungkan berarti hukuman sudah diputuskan dan tidak boleh dibanding lagi


Bak ilmu padi, kian berisi kian runduk berarti selalu merendahkan diri (tidak sombong)


Bak mandi di air kiambang, pelak lepas gatal pun datang berarti sesuatu yang diperoleh sekalipun berguna juga, tetapi kemudian mendatangkan yang lebih menyiksa


Bak menanti orang dahulu, bak pelalah orang kudian berarti melakukan sesuatu yang sia-sia


Bak tengguli ditukar cuka berarti suatu kejadian yang bertukar dari keadaan yang menggembirakan ke keadaan yang menyedihkan


Bala lalu dibawa singgah berarti sengaja mencari kesusahan (kecelakaan)


Batu hitam tak bersanding berarti tampaknya lemah lembut, tetapi keras hatinya (sukar mengalahkannya, melawannya, dan sebagainya)


Becermin di air keruh berarti mencontoh perbuatan yang kurang baik


Belakang parang lagi jika diasah niscaya tajam berarti sebodoh bodohnya orang, jika berusaha dan belajar akan menjadi pandai


Belalang hendak menjadi elang berarti orang bodoh (hina) berlaku seperti orang pandai (terhormat)


Belanak bermain di atas karang berarti ombak besar (sehingga ikan belanak yang biasanya senang diam dalam pasir laut, naik ke permukaan laut)


Belukar sudah menjadi rimba berarti kesalahan yang tidak dapat diperbaiki lagi


Belum sudah diasapi kemenyan berarti belum (sudah) kawin


Belum beranak sudah ditimang, belum duduk sudah berlunjur berarti terlampau cepat gembira sebelum maksud tercapai


Belum beranak sudah ditimang berarti bersenang-senang sebelum maksudnya tercapai


Belum diajun sudah tertarung berarti baru hendak melakukan sesuatu sudah mendapat halangan


Belum dipanjat asap kemenyan berarti belum kawin


Belum tahu di pedas lada berarti masih muda sekali. Belum tahu di pedas lada juga berarti belum berpengalaman


Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing berarti bersama-sama dalam suka dan duka

Berbukit di balik pendakian berarti lepas dari kesukaran yang satu mendapat kesukaran lain


Berdiang di abu dingin berarti tidak mendapat apa-apa (dari saudara, tuan rumah, dan sebagainya)


Bergaduk diri, saku-saku diterbangkan angin berarti banyak membual, tetapi kantongnya kosong


Bergantung di ujung kuku berarti dalam keadaan yang sangat berbahaya


Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi berarti ilmu yang dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah


Berjalan selangkah menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan berarti selalu ingat-ingat (hati-hati) dalam melakukan pekerjaan apa pun


Berjalan selangkah menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan berarti dalam berbuat sesuatu hendaklah kita mempertimbangkannya masak-masak

Berkelahi di ekor alahan berarti mempertengkarkan sesuatu yang sudah beres (selesai) atau yang kurang penting


Berkemudi di haluan, bergilir ke buritan berarti orang yang menurut perintah istrinya atau orang sebawahnya


Berketuk di luar sangkar, bertanam di luar pagar berarti mengemukakan keterangan (keberatan dan sebagainya) sesudah diputuskan


Berleleran bagai getah di lalang berarti tidak keruan (tentang percakapan atau pembicaraan)


Berlidah di lidah orang berarti hanya menurut perkataan orang


Berlurah di balik pendakian berarti maksud lain yang tersembunyi


Bermalam di bawah nyiur pinang orang, kata orang diturut berarti hendaklah kita mengikuti adat-istiadat negeri yang kita tempati


Bermulut di mulut orang berarti selalu meniru perkataan orang


Berniaga di ujung lidah berarti orang pandai yang tidak jujur


Beroleh lumpur di tempat yang kering berarti mendapat kesusahan yang tidak disangka-sangka


Bersandar di lemang hangat berarti berlindung kepada orang yang jahat (zalim dan sebagainya)


Bersutan di mata beraja di hati berarti orang yang suka berbuat sesuka hati dan sewenang-wenang


Bertali boleh dieret, bertampuk boleh dijinjing berarti ada tanda (bukti) yang jelas atau yang boleh dipegang teguh


Bertanam tebu di bibir berarti mengeluarkan kata-kata manis (untuk membujuk dan sebagainya)

Bertanam tebu di bibir berarti mengeluarkan perkataan yang manis-manis (memuji-muji dan sebagainya), tetapi mempunyai maksud yang kurang baik

Berteduh di bawah betung berarti mendapat pertolongan yang tidak mencukupi


Bertunggul ditarah, kesat diampelas berarti sudah beres (tentang perselisihan)


Besar berudu di kubangan, besar buaya di lautan berarti tiap-tiap orang besar berkuasa di tempat atau di lingkungan masing-masing


Besi baik dibajai diringgiti berarti barang yang sudah baik ditambah baik lagi


Besi baik tiada berkarat budi baik tak dilupakan berarti perbuatan yang baik selamanya terpuji


Betung ditanam, aur tumbuh berarti mengharapkan sesuatu yang baik (menguntungkan), tetapi memperoleh yang sebaliknya


Biar miskin asal cerdik, terlawan jua orang kaya berarti kebijaksanaan itu lebih utama daripada kekayaan


Bibirnya bukan diretak panas berarti perkataannya (nasihatnya) tidak sia-sia


Bingung tak dapat diajar, cerdik tak dapat diikuti berarti berlagak pandai (tidak mau mendengarkan nasihat orang)


Bintang di langit boleh dibilang, tetapi arang di muka tak sadar berarti cela (kesalahan, keburukan, dan sebagainya) orang lain diketahui, tetapi cela sendiri tidak tahu


Buah manis berulat di dalamnya berarti perkataan yang manis-manis biasanya mengandung maksud yang kurang baik


Buaian diguncang, anak dicubit berarti perbuatan dan tutur kata yang baik untuk menutupi perbuatan atau maksud yang jahat


Bukan tanahnya menjadi padi berarti bukan tampannya yang akan menjadi orang baik-baik


Bukit jadi paya berarti orang kaya (mulia) menjadi miskin (hina)


Bulat boleh digulingkan, pipih boleh dilayangkan berarti sudah sepakat benar. Bulat boleh digulingkan, pipih boleh dilayangkan juga berarti sudah putus mufakat


Bunga dipetik perdu ditendang bunganya dipersunting, pangkalnya diberaki berarti hanya mau mengambil keuntungan saja (misalnya istri dikasihi, mertua dibenci)


Buntat hendak jadi kemala berarti tidak tahu diri


Bunyi perempuan di air berarti ramai (gaduh sekali)


Buruk muka cermin dibelah berarti karena aibnya (kesalahannya) orang lain dipersalahkan


Buruk muka cermin dibelah berarti karena kesalahan (kebodohan) sendiri, orang lain dipersalahkan

Burung terbang dipipiskan lada berarti sudah bersiap untuk bersenang-senang dengan sesuatu yang belum lagi diperoleh


Busut juga yang ditimbun anai-anai berarti yang biasa bersalah juga yang dituduh orang dalam suatu kejahatan


Busut juga yang ditimbun anai-anai berarti orang yang kaya juga yang bertambah kekayaannya

Cacing hendak menjadi naga berarti orang hina hendak menyamai orang besar


Cacing menjadi ular naga berarti orang hina (miskin) menjadi orang besar (kaya)


Cakap berdegar-degar, tumit diketing berarti banyak mulut, tetapi penakut


Campak bunga dibalas dengan campak tahi berarti memberi kebaikan dibalas dengan kejahatan


Cangkat sama didaki, lurah sama dituruni berarti sama-sama merasakan kesusahan atau kesenangan


Cekur jerangau, ada lagi di ubun-ubun berarti masih sangat muda (belum berpengalaman)


Condong ditumpil, lemah diaduk berarti orang yang dalam kesulitan uang dan sebagainya diberi pertolongan


Daging gajah sama dilapah, daging tuma sama dicecah berarti banyak sama banyak, sedikit sama sedikit. Daging gajah sama dilapah, daging tuma sama dicecah juga berarti adil


Dalam laut boleh diajuk, dalam hati siapa tahu berarti apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang tidak dapat kita ketahui


Dekat dapat ditunjal, jauh dapat ditunjuk berarti perkataan atau pengakuan yang dapat dibuktikan kebenarannya


Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu berarti kelihatan bagus, tetapi sebenarnya tidak demikian halnya


Di luar merah di dalam pahit berarti kelihatan bagus, tetapi sebenarnya tidak demikian halnya


Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung berarti harus menyesuaikan diri dengan adat dan keadaan tempat tinggal


Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung berarti menurutkan adat kebiasaan tempat yang didiami


Di mana kayu bengkok, di sanalah musang meniti berarti di tempat yang tidak terjaga, di situlah pencuri datang


Di mana pinggan pecah, di sana tembikar tinggal berarti di mana orang meninggal di situ dikuburkan


Di mana ranting dipatah, di situ air disauk berarti setiap orang hendaklah menurut adat kebiasaan di negeri tempat tinggalnya


Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung berarti hendaklah mengikuti adat negeri yang didiami


Di mana tembilang terentak, di situlah cendawan tumbuh berarti di mana perkara atau perselisihan tumbuh, di situlah diselesaikan


Di manakah berteras kayu mahang berarti jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil


Di muka di puncak hidung berarti dekat sekali di depan orang


Di padang orang berlari, di padang sendiri berjingkat berarti tabiat orang tamak, mau menerima pemberian orang, tetapi tidak mau memberi


Dialas bagai memengat berarti (kalau) berkata hendaknya jangan asal berkata saja


Diam di laut masin tidak, diam di bandar tak meniru berarti tidak mengikuti adat kebiasaan yang baik


Diam penggali berkarat, diam ubi berisi berarti pengetahuan dan sebagainya yang tidak dipakai lama-kelamaan akan hilang


Diam seribu basa berarti diam sama sekali (tidak berkata sepatah pun)


Diam-diam ubi berisi berarti pendiam atau diam, tetapi berpikir atau banyak pengetahuannya


Dianjak layu, dianggur mati berarti seseorang yang telah menetapkan katanya, tidak akan mengubah lagi ketetapan itu karena sudah menjadi adat rasam


Dianjak layu, dibubut mati berarti suatu kebenaran yang tidak boleh diubah lagi, yang harus dipakai terus


Dianjungkan seperti payung, ditambak seperti kasur berarti sangat. Dianjungkan seperti payung, ditambak seperti kasur juga berarti dimuliakan


Diasak layu, dicabut mati berarti sesuatu yang tetap dan tidak diubah-ubah lagi


Dibakar tak hangus direndam tak basah berarti sangat kikir


Dibakar tak hangus direndam tak basah berarti sangat kuasa

Diberi bertali panjang berarti diberi kebebasan yang seluas-luasnya. Diberi bertali panjang juga berarti dibiarkan berbuat sesuka hatinya


Diberi betis hendak paha berarti diberi sedikit lalu menginginkan yang banyak (semuanya)


Diberi kepala hendak bahu berarti diberi sedikit lalu minta banyak


Diberi kuku hendak mencekam berarti diberi kekuasaan, lalu hendak berbuat sewenang-wenang


Diberi kuku hendak mencengkam berarti baru diberi kekuasaan sedikit sudah hendak menindas orang lain


Diberi sejari hendak setelempap berarti orang yang diberi sedikit ingin lebih banyak lagi


Diberi sejengkal hendak sehasta diberi sehasta hendak sedepa berarti diberi sedikit lalu hendak minta lebih banyak lagi


Dibilang genap, dipagar ganjil berarti keli-hatannya beruntung, tetapi sebenarnya merugi


Dibuat karena Allah, menjadi murka Allah berarti dilakukan dengan maksud baik, tetapi disangka orang kurang atau tidak baik


Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa berarti orang baru bekerja dengan baik dan sempurna sesudah ia dimarahi


Dicoba-coba bertanam mumbang, moga-moga tumbuh kelapa berarti dicoba-coba mengusahakan sesuatu yang moga-moga menjadi besar dan mendatangkan hasil


Dientak alu luncung berarti dikalahkan oleh orang bodoh


Digenggam takut mati, dilepaskan takut terbang berarti rasa gelisah, khawatir. Digenggam takut mati, dilepaskan takut terbang juga berarti kacau-balau


Diindang ditampi beras, dipilih antah satu-satu berarti jika hendak mencari istri atau menantu hendaklah diselidiki betul-betul sebelumnya


Diiringi menyepak, dikemudiankan menanduk berarti serba menyusahkan orang (misalnya tidak diajak berunding marah, diajak berunding pendiriannya tidak tegas)


Dijual sayak, dibeli tempurung berarti sama saja halnya, pekerjaan baru, tetapi tidak berbeda dari pekerjaan lama


Dikatakan berhuma lebar, sesapan di halaman berarti memegahkan kekayaan (keberanian dan sebagainya), tetapi tidak ada tanda-tanda kekayaan (keberaniannya)


Dikati sama berat, diuji sama merah berarti seimbang derajatnya (kedudukannya, pangkatnya, dan sebagainya)


Dikerkah dia menampar pipi, dibakar dia melilit puntung berarti selalu hendak membalas kepada orang yang berbuat jahat


Dilengah dimabuk beruk berayun berarti merasa senang (asyik) akan sesuatu yang tidak ada gunanya


Dilihat pulut, ditanak berderai berarti apa yang kelihatan di luar (pada lahirnya) berlainan dengan keadaan sebenarnya (seperti kelihatannya pandai, sebenarnya tidak tahu apa-apa)


Diminta tebu diberi teberau berarti diberi sesuatu yang berlainan dengan yang dijanjikan


Dinding teretas, tangga terpasang berarti sudah nyata (terbukti) bahwa seseorang kecurian


Dinding teretas, tangga terpasang berarti sesuatu yang telah cukup buktinya

Dipilih antah satu-satu berarti dipilih atau diperiksa dengan saksama


Diraih siku ngilu, direngkuh lutut sakit berarti serba salah dalam suatu pekerjaan yang sangat sulit, dikerjakan berbahaya tidak dikerjakan berbahaya pula


Dirintang siamang berbual berarti asyik melihat sesuatu yang tidak berguna untuk menghabiskan waktu


Disangka panas sampai petang, kiranya hujan tengah hari berarti disangka akan senang atau mulia selamanya, tetapi tiba-tiba ditimpa musibah sehingga jatuh melarat


Disangka tiada akan mengaram, ombak yang kecil diabaikan berarti tiada mengindahkan bahaya yang kecil, akhirnya tertimpa bencana besar


Diserakkan padi awak diimbaukan orang lain berarti orang lain dipelihara, keluarga sendiri disia-siakan


Disigai sampai ke langit tinggi disigai, besar ditebang berarti suatu perkara diselidiki secara tuntas. Disigai sampai ke langit tinggi disigai, besar ditebang juga berarti diselidiki (diusut) sebaik-baiknya


Disisih bagai antah berarti diasingkan dari yang lain. Disisih bagai antah juga berarti tidak disukai


Ditebuk dikerobok tikus berarti sudah hilang kegadisannya (sudah tidak gadis lagi)


Ditetak belah, dipalu belah, tembikar juga akan jadinya berarti walau bagaimanapun disiksa dan disakiti akhirnya kalau mati tetap jadi mayat


Ditindih yang berat, dililit yang panjang berarti tidak dapat melepaskan diri dari kekuasaan orang (kemalangan dan sebagainya)


Diuji sama merah, dalam hati ditail sama berat berarti sudah cocok benar (tentang suami istri)


Dengan sesendok madu dapat lebih banyak ditangkap serangga daripada dengan cuka sesendok berarti dengan mulut manis serta ramah-tamah lebih banyak diperoleh sahabat (kawan) daripada dengan perkataan yang tajam dan muka yang masam


Duduk di ambung-ambung taji berarti selalu merasa khawatir (gelisah)


Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak duduk meraut ranjau, berdiri melihat musuh berarti selalu bekerja dengan waspada


Duduk sama rendah, tegak berdiri sama tinggi berarti sejajar kedudukannya (tingkatnya atau martabatnya)


Elok kata dalam mufakat, buruk kata di luar mufakat berarti apa yang hendak dikerjakan sebaiknya dibicarakan dulu dengan teman sejawat atau kaum keluarga, dan sebagainya


Elok lenggang di tempat datar berarti bersuka hati harus pada tempat atau pada waktu yang layak


Embun di ujung rumput berarti sesuatu yang lekas hilang (bersifat tidak tetap)


Empang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit berarti sudah tidak dapat didamaikan lagi (tentang perselisihan). Empang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit juga berarti tidak dapat dikurangi sedikit juga (tentang aturan)


Enak lauk dikunyah-kunyah, enak kata diperkatakan berarti merundingkan sesuatu hendaknya berkali-kali supaya hasilnya baik


Gaharu dibakar kemenyan berbau berarti memperlihatkan kelebihannya supaya dipercaya orang


Gajah berjuang sama gajah, pelanduk kancil mati di tengah-tengah berarti jika terjadi pertengkaran (peperangan) antara orang (negara) besar, orang kecil (negara kecil) yang celaka


Gajah lalu dibeli, rusa tidak terbeli berarti mengerjakan sesuatu yang penting dengan melupakan hal-hal yang kecil yang sebenarnya sangat perlu untuk menyelesaikan sesuatu yang penting itu


Gajah mati karena gadingnya berarti orang yang mendapat kecelakaan atau binasa karena keunggulannya (tabiatnya atau perbuatannya)


Garam di kulumnya tak hancur berarti orang yang pandai menyimpan rahasia


Garam di laut, asam di gunung bertemu dalam belanga juga berarti laki-laki dan perempuan kalau jodoh bertemu juga akhirnya


Gedang sebagai dilambuk-lambuk, tinggi sebagai dijunjung berarti sangat dimuliakan


Gemuk membuang lemak, cerdik membuang kawan berarti tidak mau menolong atau bergaul dengan keluarganya


Gila di abun-abun berarti mengharapkan sesuatu yang mustahil


Gombang di lebuh berarti congkak


Gombang di lebuh berarti elok di luar di dalamnya tidak

Gula di mulut, ikan dalam belanga berarti sudah dalam kekuasaan kita


Gunung juga yang dilejang panas berarti biasanya orang yang sudah kaya yang mendapat untung atau bertambah kaya


Gunung juga yang dilejang panas berarti orang yang telah berbuat kejahatan

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari berarti kelakuan murid (orang bawahan) selalu mencontoh guru (orang atas-annya)


Habis manis sepah dibuang berarti sesudah tidak berguna lagi, lalu dibuang (tidak dipedulikan lagi dan sebagainya)


Habis manis sepah dibuang berarti mengabaikan (menyia-nyiakan) seseorang yang sudah tidak diharapkan apa-apa lagi dari dirinya

Habis pati ampas dibuang berarti sesudah tidak berguna lagi lalu dibuang (tidak dipedulikan lagi)


Habis perkara,nasi sudah menjadi bubur berarti tidak ada gunanya dibicarakan lagi


Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua berarti budi bahasa yang baik tidak akan dilupakan orang


Hanyut dipintasi, lulus diselami, hilang dicari berarti menolong orang pada waktu kesusahan


Harapkan guruh guntur di langit, air di tempayan ditumpahkan berarti mengharapkan sesuatu yang belum tentu, barang yang telah ada dilepaskan


Harimau ditakuti karena giginya berarti orang besar dan berpangkat hanya ditakuti orang karena kekuasaan dan pangkatnya


Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama berarti orang baik akan selalu meninggalkan nama baik, sedangkan orang jahat akan meninggalkan nama buruk


Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading berarti orang yang berjasa akan selalu disebut-sebut orang walaupun telah mati


Hati bagai baling-baling baling-baling di atas bukit berarti tidak tetap hatinya (pendiriannya)


Hati bak serangkak dibungkus berarti orang yang sangat berharap akan mendapat sesuatu yang diingininya


Hati gajah sama dilapah, hati kuman tungau sama dicecah dicecap berarti perolehan (laba) yang banyak dibagi sama banyak, perolehan (laba) yang sedikit dibagi juga sama sedikit


Hati gajah sama dilapah, hati tuma tungau sama dicecah berarti laba atau rugi sama-sama dirasakan (dibagi secara adil)


Hati gatal mata digaruk berarti sangat ingin, tetapi tidak kuasa menyampaikan keinginannya itu. Hati gatal mata digaruk juga berarti menyalahkan orang yang tidak bersalah


Hendak ulam pucuk menjulai pucuk dicinta ulam tiba berarti mendapat sesuatu yang lebih daripada yang dikehendaki


Hidung dicium pipi digigit berarti kasih sayang yang semu, pura-pura saja


Hidup di ujung gurung orang berarti orang yang hidup melarat


Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah berarti selama hidup orang harus taat pada adat kebiasaan dalam masyarakat


Hilang bini boleh dicari, hilang budi badan celaka berarti apabila kutukan orang tuanya belum dicabut, celakalah hidupnya nanti


Hilang di mata di hati jangan berarti biarpun telah pergi jauh, jangan melupakan orang yang ditinggalkan


Hilang dicari, terapung direnangi, terbenam diselami berarti hal atau perkara yang tersembunyi, lalu diperiksa


Hilir malam mudik tak singgah, daun nipah dikatakan daun abu berarti merasa malu, segan, dan sebagainya karena sudah berutang budi atau karena perkariban


Hitam di atas putih berarti dengan tertulis, tidak hanya dengan perkataan (tentang perjanjian dan sebagainya)


Hitam dikatakan putih, putih dikatakan hitam berarti tidak mengatakan yang sebenarnya (yang baik dikatakan buruk dan sebaliknya)


Hitam, hitam gagak, putih, putih udang kapai hitam, hitam bendi, putih, putih sadah berarti yang hina tetap hina meskipun cantik rupanya dan yang mulia tetap mulia meskipun buruk rupanya


Hitam, hitam tahi minyak dimakan juga, putih-putih ampas kelapa dibuang berarti barang yang buruk tetapi berguna disimpan, barang yang bagus tetapi tidak berguna dibuang


Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri hujan keris lembing di negeri kita, hujan emas perak di negeri orang, baik berarti sebaik-baik negeri orang tidak sebaik negeri sendiri


Iba akan kacang sebuah, tak jadi memengat berarti karena sayang akan barang yang sedikit, tidak jadi mengerjakan hal yang diinginkan dan menyenangkan hati


Ikan di hulu, tuba di hilir berarti perbuatan yang sia-sia


Ikan di laut, asam di gunung, bertemu dalam belanga berarti biarpun tinggal berjauhan, kalau sudah jodoh akan menjadi suami istri juga


Ikan lagi di laut, lada garam sudah dalam sengkalan berarti bersiap-siap mengecap hasil pekerjaan yang belum pasti berhasil


Ilmu padi, makin berisi makin runduk berarti makin banyak pengetahuan makin rendah hati


Intan disangka batu kelikir berarti tidak pandai menghargai sesuatu. Intan disangka batu kelikir juga berarti tidak mengetahui harga (nilai) sesuatu dengan sebenarnya


Itik berenang di laut air, mati kehausan berarti menderita kesusahan karena tidak dapat (atau tidak mendapat kesempatan memanfaatkan kekayaan yang ada


Jadi abu arang berarti sudah usang atau basi (tentang pembicaraan dan sebagainya)


Jadi alas cakap berarti sebagai imbalan jasa yang telah dibuat


Jadi bumi langit berarti menjadi orang tempat menggantungkan nasib dan harapan


Jadi kain basahan berarti sudah menjadi miskin (hina). Jadi kain basahan juga berarti hilang kekayaannya (kemuliaannya dan sebagainya)


Jadi mata telinga jadi kaki tangan berarti seseorang yang menjadi harapan atau kepercayaan, yang selalu memberi pertolongan


Jangan dilepaskan tangan kanan, sebelum tangan kiri berpegang berarti jangan melepaskan pekerjaan yang ada sebelum mendapat pekerjaan (pencaharian) yang baru


Jangan diperlebar timba ke perigi, kalau tak putus, genting berarti jangan diulang-ulang perbuatan yang jahat, lambat laun akan mendapat bencana jua


Jangan diperlelarkan timba perigi, kalau tak putus genting berarti kejahatan itu jika diulang-ulang akhirnya mencelakakan juga


Jangan ditentang matahari condong, takut terturut jalan tak berintis berarti hendaklah kita selalu ingat dan cermat, jangan teperdaya atau tergoda akan sesuatu yang elok, tetapi mungkin mendatangkan bahaya


Jaras dikatakan raga jarang berarti mencela orang lain, padahal diri sendiri ada celanya juga


Jatuh di atas tilam berarti mendapat kesenangan hidup


Jatuh diimpit tangga berarti ditimpa kesukaran berturut-turut


Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa berarti sudah berpengalaman banyak


Jauh berjalan banyak dilihat berarti kalau bepergian ke mana-mana akan memperoleh banyak pengalaman


Jauh dapat ditunjuk, dekat dapat ditunjal berarti apa yang dikatakan dapat dibuktikan kebenarannya


Jauh di mata di hati jangan berarti biarpun tempat berjauhan, jangan lupa-melupakan


Jauh di mata, dekat di hati berarti bertempat tinggal tidak berdekatan, tetapi jiwa (hati) selalu merasa dekat


Jelatang di hulu air berarti sesuatu yang selalu menyusahkan


Jika benih yang baik jatuh ke laut, menjadi pulau berarti orang yang berketurunan baik, ke mana pun perginya akan bersifat baik juga


Jika kasih akan padi, buanglah rumput berarti jika kasih kepada anak istri, berhentilah mengasihi perempuan lain


Jika langkah sudah terlangkahkan, berpantang dihela surut berarti suatu pekerjaan yang telah dimulai dengan saksama, sekali-kali jangan dihentikan sebelum tujuan tercapai


Jika pisau tiada berbaja, makin dikikir bertambah tumpul berarti anak yang dungu, makin diajar makin bodoh


Jika tak lalu dandang di air, di gurun dirangkakkan ditanjakkan berarti menggunakan segala daya upaya untuk mencapai maksud


Jika takut dilimbur pasang, jangan berumah di tepi pantai berarti kalau takut mendapat kesusahan, jangan mengerjakan hal-hal yang berbahaya


Jika tidak pecah ruyung, di mana boleh mendapat sagu berarti tidak akan tercapai maksud kalau tidak mau berusaha


Jikalau di hulu airnya keruh, tak dapat tidak di hilirnya keruh juga berarti jika seseorang jahat asalnya, jahat juga kelakuannya


Jiwa bergantung di ujung rambut berarti selalu gelisah karena tidak tentu nasibnya


Kain basah kering di pinggang berarti miskin sekali


Kain lama dicampak buang, kain baru pula dicari berarti menceraikan istri tua dan mencari istri muda


Kain pendindingmiang, uang pendindingmalu berarti segala sesuatu hendaknya digunakan sebagaimana mestinya, jangan kikir


Kaki untut dipakaikan gelang berarti memakai sesuatu untuk memperelok diri, tetapi malah bertambah buruk


Kalah jadi abu, menang jadi arang berarti pertengkaran tidak akan menguntungkan pihak mana pun


Kalau bangkai galikan kuburnya, kalau hidup sediakan buaiannya berarti lebih baik menunggu dengan tenang apa yang akan terjadi, lalu mempertimbangkan langkah apa yang akan diambil


Kalau di bawah melompat, lalu di atas menyusup berarti menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan penduduk tempat tinggalnya


Kalau guru makan berdiri, maka murid makan berlari berarti kelakuan murid mencontoh kelakuan guru, biasanya dalam hal yang tidak baik


Kalau laba bercikun-cikun, buruk diberi tahu orang berarti apabila beroleh kesenangan diam saja, tetapi apabila menderita kesusahan berkeluh kesah atau minta tolong kepada orang lain


Kalau menampi jangan tumpah padinya berarti mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya


Kalau pandai menggulai badar pun menjadi tenggiri berarti orang yang pandai, meskipun kurang alat syaratnya, dapat juga mengerjakan sesuatu dengan baik


Kalau pandai menggulai, badar jadi tenggiri berarti kalau pandai mengatur (menyusun dan sebagainya), barang yang kurang baik pun akan menjadi baik juga. Kalau pandai menggulai, badar jadi tenggiri juga berarti ikan sia. Kalau pandai menggulai, badar jadi tenggiri juga berarti ikan sia-sia


Kalau takut dilimbur pasang, jangan berumah di tepi pantai berarti kalau takut akan akibatnya, jangan melakukan pekerjaan itu


Kapal besar ditunda jongkong berarti orang berkuasa yang menurut perintah orang kecil


Kasihkan anak tangan-tangankan, kasihkan bini tinggal-tinggalkan sayang di anak dibenci, sayang di negeri ditinggalkan berarti yang disayangi itu hendaknya jangan terlalu dimanjakan;


Kata dahulu bertepati, kata kemudian kata bercari berarti sesuatu yang telah dijanjikan (ditentukan) dahulu harus ditepati, sedangkan hal yang timbul kemudian (belakangan) harus dimufakatkan lagi


Kata dahulu bertepati, kata kemudian kata bercari berarti janji harus ditepati dan hanya boleh diubah setelah diperoleh kebulatan kata pula

Katak hendak jadi lembu berarti orang hina (miskin, rendah) hendak menyamai orang besar (kaya dan sebagainya). Katak hendak jadi lembu juga berarti congkak. Katak hendak jadi lembu juga berarti sombong


Ke mana dialih, lesung berdedak juga berarti sesuatu yang memang merugikan (menyusahkan), di mana pun akan merugikan juga


Ke mudik tentu hulunya, ke hilir tentu muaranya berarti suatu maksud atau niat hendaklah tentu wujud atau tujuannya. Ke mudik tentu hulunya, ke hilir tentu muaranya juga berarti kokoh, baik dalam soal yang kecil-kecil maupun dalam soal yang besar-besar


Ke sungai sambil mandi berarti sekali bekerja dua tiga pekerjaan terselesaikan


Kecil dikandung ibu, besar dikandung adat, mati dikandung tanah berarti manusia itu selalu terikat oleh tata tertib masyarakat, tidak pernah bebas sama sekali


Kecil tapak tangan, nyiru ditadahkan berarti ingin mendapat sebanyak-banyaknya


Kecil-kecil lada api padi, kutu berarti kecil tetapi berani (pandai dan sebagainya)


Kelam disigi lekung ditinjau berarti segala hal yang kurang terang harus diselidiki baik-baik


Keledai hendak dijadikan kuda berarti orang bodoh hendak disamakan dengan orang pandai


Keperagawatian santan di kuku berarti mencari keuntungan dengan jalan yang sukar sekali


Kera menjadi monyet berarti sama saja halnya


Keras ditakik, lunak disudu berarti segala perintah hendaklah diberikan dengan penuh kebijaksanaan


Kerbau seratus dapat digembalakan, manusia seorang tiada terkawal berarti menjaga seorang perempuan lebih sukar daripada menjaga binatang yang banyak


Kerosok ular di rumpun bambu berarti tidak perlu takut akan gertakan atau ancaman orang


Kilat di dalam kilau berarti ada maksud tertentu yang terselubung dalam perkataan (gerak-gerik dan sebagainya)


Kini gatal besok digaruk berarti pertolongan yang datangnya terlambat


Kita di pangkal merawal dia di ujung merawal berarti tanggungan kita lebih berat daripada tanggungannya


Kudis menjadi tokak berarti perkara yang kecil menjadi besar


Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak berarti kesalahan (kekurangan) orang lain walaupun kecil sekali akan kelihatan, tetapi kesalahan (kekurangan) sendiri (meskipun besar) tidak kelihatan


Kusut diselesaikan, keruh diperjernih berarti perselisihan hendaklah diselesaikan secara baik-baik


Laba sama dibagi, rugi sama diterjuni berarti bersahabat sehidup semati


Lading tajam sebelah berarti selalu mau menerima pemberian, tetapi segan memberi


Lagi ada jangan dimakan, sudah habis baru dimakan berarti sewaktu ada pencaharian, jangan diganggu harta simpanannya, tetapi apabila tiada pencaharian lagi, barulah dipergunakan harta simpanan itu


Lain biduk, lain di galang berarti jawaban yang bersalahan dengan pertanyaan (tidak menjawab barang apa yang ditanyakan)


Lain di mulut, lain di hati berarti yang dikatakan berbeda dengan isi hatinya


Lain gatal lain digaruk berarti lain yang ditanya lain yang dijawab


Lain sakit lain diobat, lain luka lain dibebat berarti jawab yang berlainan dengan apa yang ditanyakan. Lain sakit lain diobat, lain luka lain dibebat juga berarti yang diberikan berlainan dengan yang diminta


Lain yang diagak lain yang kena berarti yang dimaksudkan berlainan dengan yang didapat


Laki pulang kelaparan, dagang lalu ditanakkan berarti lebih banyak mengindahkan urusan orang lain daripada urusan sendiri


Laksana mengaprit di tengah laut, dipukul ombak jatuh ke tepi berarti orang yang belum mantap kedudukannya atau belum bernasib baik dalam mengadu untung


Lancar kaji karena diulang, pasar jalan karena diturut berarti kepandaian atau kemahiran didapat karena rajin berlatih


Laut budi tepian akal berarti seseorang yang banyak ilmu dan bijaksana


Laut ditembak, darat kena berarti lain yang diperoleh dari yang diharapkan


Laut ditimba akan kering berarti betapa pun banyaknya harta, jika selalu dibelanjakan, akhirnya akan habis juga


Laut mana yang tak berombak, bumi mana yang tak ditimpa hujan berarti bagaimanapun manusia tidak akan luput dari kekhilafan (kesalahan)


Lemak manis jangan ditelan, pahit jangan dimuntahkan berarti suatu perundingan, jikalau baik sekalipun jangan terus diterima dan jika kurang baik jangan pula terus ditolak, hendaklah dipikirkan dalam-dalam dan ditimbang baik-baik dahulu baik jeleknya


Lengan bagai lilin dituang berarti lengan yang indah bentuknya


Lonjak bagai labu dibenam berarti orang yang sombong


Lopak jadi perigi berarti naik derajat (orang miskin menjadi kaya dan sebagainya)


Subur karena dipupuk, besar karena diambak. Subur karena dipupuk, besar karena diambak; besar diambak, tinggi dianjung juga berarti besar diambak, tinggi dianjung berarti orang besar atau tinggi kedudukannya karena dimuliakan oleh anak buahnya atau pengikutnya


Sudah dapat gading bertuah, tanduk tiada berguna lagi berarti setelah mendapatkan yang lebih baik, yang kurang baik ditinggalkan


Sudah di depan mata berarti sudah dekat (hampir datang)


Sudah dieban dihela pula berarti menderita berbagai-bagai kemalangan (kecelakaan dan sebagainya) terus-menerus


Sudah diheban dihela pula berarti menderita berbagai kecelakaan terus-menerus


Sudah dikecek, dikecong pula berarti dua kali tertipu


Sudah jatuh ditimpa tangga berarti mendapat kesusahan (kecelakaan) secara berturut-turut


Sudah terlalu hilir malam, apa hendak dikata lagi berarti perbuatan salah yang telanjur


Sudah tidak tersudu oleh angsa, baharu diberikan kependekand itik berarti orang kecil hanya beroleh apa-apa yang tidak dapat digunakan oleh orang besar


Sudu-sudu di tepi jalan dipanjat kena durinya, disinggung kena rabasnya, ditakik kena getahnya berarti orang yang tidak dapat dikalahkan


Sukat air menjadi batu berarti tidak mungkin


Suku tak boleh dianjak, malu tak boleh diagih berarti orang yang sekaum harus sehina semalu (hina seorang hina semuanya, malu seorang malu semuanya)


Sumur digali air terbit berarti beroleh sesuatu lebih daripada yang diharapkan


Sungguhpun kawat yang dibentuk, ikan di laut yang diadang berarti sungguhpun tampaknya tidak ada suatu maksud, tetapi ada juga yang dituju


Tahu di angin berkisar berarti tahu akan perubahan hati (maksud, keinginan) seseorang


Tahu di angin turun naik berarti tahu akan gelagat sesuatu yang akan terjadi


Tahu di asin garam berarti banyak pengalaman


Tahu di dalam lubuk berarti tahu benar akan seluk beluk suatu perkara


Tak ber pucuk di atas enau berarti sangat angkuh (selalu memandang rendah kepada orang lain)


Tak ada beras yang akan ditanak berarti tidak ada kelebihan yang pantas dikemukakan


Tak ada gading yang tak retak berarti tidak ada sesuatu yang tidak ada cacatnya


Tak ada padi yang bernas setangkai berarti tidak ada satu pun yang sempurna


Tak air talang dipancung berarti tidak segan melakukan apa saja untuk mencapai maksudnya


Tak akan takkan lari gunung dikejar, hilang kabut tampaklah dia berarti jangan tergesa-gesa dalam mengerjakan (mencapai) sesuatu yang telah pasti


Tak beban batu digalas tiada beban mencari beban berarti sudah senang mencari kesusahan (kesukaran)


Tak beras antah dikisik berarti melakukan segala sesuatu asal maksud tercapai


Tak emas bungkal diasah berarti tidak peduli apa pun diperbuat, asal tercapai maksudnya


Tak kan lari gunung dikejar, hilang kabut tampaklah dia berarti sesuatu yang sudah pasti (diperoleh) sehingga tidak perlu tergopoh-gopoh (diburu-buru) benar dalam mengerjakannya


Tak lapuk di hujan, tak lekang di panas berarti tetap selamanya. Tak lapuk di hujan, tak lekang di panas juga berarti tidak mengalami perubahan


Tak putus dirundung malang berarti tiada putusnya, tiada henti-hentinya mendapat celaka


Tak tanduk telinga dipulas berarti tindakan apa pun dilakukan asal dapat merugikan lawan (membalas dendam)


Tak tentu hilir mudiknya berarti tidak tentu ujung pangkalnya, tidak tentu asal muasalnya


Takut di hantu, terpeluk ke bangkai berarti mendapat kesusahan (kecelakaan) karena takut akan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti


Takutkan tuma, dibuangkan kain berarti sayang akan sesuatu yang tidak berharga, tetapi dapat kerugian besar


Tali busur tidak selamanya dapat diregang berarti orang tidak selamanya bekerja terus-menerus, tetapi mesti ada istirahatnya


Tampak gabak di hulu gabak di hulu tanda akan hujan berarti ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu


Tanam lalang tak akan tumbuh padi berarti melakukan kejahatan, kejahatan juga balasnya


Tanduk di berkas berarti sesuatu yang tidak dapat dikerjakan


Tanduk di kepala tak dapat digelengkan berarti tidak dapat mengelakkan diri dari kewajiban yang harus dikerjakan


Taruh beras dalam padi berarti menyimpan rahasia baik-baik


Tebu masuk di mulut gajah berarti binasa sama sekali (sudah tidak tertolong lagi)


Telaga di bawah gunung berarti perempuan yang mendatangkan untung kepada suaminya


Telah busuk maka dipeda berarti berbuat sesuatu yang telah terlambat


Telah dapat gading bertuah, terbuang tanduk kerbau mati berarti karena mendapat yang lebih baik, yang lama atau yang kurang baik dibuang


Telah dijual, maka dibeli berarti pikirkan masak-masak sebelum mengerjakan sesuatu


Telah habis maka dimakan berarti sewaktu ada pencaharian, jangan diganggu harta simpanannya, tetapi apabila tiada pencaharian lagi, barulah dipergunakan harta simpanan itu


Telah jadi indarus berarti telah kalah. Telah jadi indarus juga berarti kalah main (judi dan sebagainya)


Telah mati yang bergading berarti telah meninggal orang yang berkuasa (disegani)


Telur di ujung tanduk berarti dalam keadaan yang sangat sulit (berbahaya)


Tempat makan jangan dibenahi berarti kita jangan berbuat tidak senonoh di tempat kita menumpang. Tempat makan jangan dibenahi juga berarti jangan berbuat jahat kepada orang yang berlaku baik kepada kita


Terbayan disangka tubuh berarti mengharapkan sesuatu yang belum pasti


Tercincang puar bergerak andilau berarti jika seseorang dihina, tentu keluarga atau kaumnya akan turut tersinggung juga


Terconteng arang di muka berarti mendapat malu


Tercoreng arang di dahi kening, muka berarti mendapat malu


Tergerenyeng-gerenyeng bagai anjing disua antan berarti seorang penakut yang menepi-nepi karena ingin lari


Terkalang di mata, terasa di hati berarti ada sesuatu yang akan dikemukakan, tetapi belum tersampaikan (terkatakan)


Terlampau dikadang mentah berarti karena terlampau diperbagus, sebaliknya malahan menjadi buruk


Termakan di cirit berendang berarti termakan guna-guna sehingga dikuasai benar oleh orang lain


Termakan di rambut berarti amat susah


Termakan di sadah berarti sangat kesal hati (karena tertipu dan sebagainya)


Terpecak peluh di muka berarti malu sekali


Terpegang di abu hangat berarti mendapat atau mencampuri sesuatu yang menyusahkan saja


Terpeluk di batang dedap berarti malang. Terpeluk di batang dedap juga berarti sial


Tersendeng-sendeng bagai sepat di bawah mengkuang berarti orang yang kecil dan hina hendak mendekat kepada orang besar dan mulia, nyatanya kelihatan takut dan malu


Tersingit-singit bagai katung di bawah reba berarti sangat merendahkan diri seperti orang kecil (orang bawahan) yang takut dan malu hendak mendekati orang besar atau berkedudukan tinggi


Tertangkap di ikan kalang berarti berhadapan dengan orang pandai, kaya, berani, dan sebagainya


Tertimbun dikais, terbenam diselam berarti suatu hal (perkara) yang tersembunyi, diperiksa dan diselidiki dengan cermat


Tertumbuk biduk dikelokkan, tertumbuk kata dipikiri berarti jangan putus asa


Tiada beban batu digalas berarti mencari kesukaran (kesusahan)


Tiada kayu janjang dikeping berarti suatu hal yang tidak dapat ditangguhkan, kalau tidak, akan mendatangkan malu


Tiada rotan akar pun berguna jadi berarti kalau tidak ada yang baik, yang kurang baik pun boleh juga (meskipun kurang baik dapat dipakai juga)


Tiba di perut dikempiskan, tiba di mata dipicingkan, tiba di dada dibusungkan berarti perbuatan tidak adil (seperti terhadap a bersikap keras, terhadap b bersikap lembut)


Tiba di rusuk menjeriau berarti sudah pada tempatnya. Tiba di rusuk menjeriau juga berarti sudah kena benar (tentang jawaban dan sebagainya)


Tidak dibawa orang sehilir semudik berarti tidak dibawa orang bergaul (tersisih) dalam masyarakat karena suatu sebab atau karena tingkah lakunya tidak disetujui masyarakat


Tidur di atas miang enjelai berarti tidak dapat tenang (selalu gelisah)


Tingkalak menghadap mudik, lukah menghadap hilir berarti segala sesuatu menurut adatnya (sifatnya, kelazimannya)


Tohok raja tidak dapat dielakkan berarti sukar menolak kehendak orang yang berkuasa


Tua-tua keladi kelapa berarti dikatakan kepada orang yang makin tua makin baik atau makin buruk (kelakuannya)


Tua-tua keladi kelapa berarti dikatakan kepada orang yang makin tua makin baik atau makin buruk (kelakuannya)

Tuah ayam boleh dilihat, tuah manusia siapa tahu berarti tidak ada orang yang dapat menentukan nasib seseorang


Udang tak tahu di bungkuknya berarti tidak tahu akan cacat dan celanya sendiri


Ukur baju di badan sendiri berarti menganggap atau menilai orang lain sama dengan anggapan atau penilaian terhadap diri sendiri


Umpama air digenggam tiada tiris berarti hal orang yang sangat kikir, tidak sedikit pun terbuka tangannya untuk menolong orang yang sengsara


Unjuk yang tidak diberikan berarti berjanji akan memberi sesuatu, tetapi hanya kata-kata (tidak dipenuhi)


Usang dibarui, lapuk dikajangi berarti mana-mana yang kurang baik diperbaiki


Utang emas boleh dibayar utang budi dibawa mati berarti budi baik orang hanya dapat dibalas dengan kebaikan pula


Utang emas dapat dibayar, utang budi dibawa mati berarti kebaikan hati orang akan diingat selama-lamanya


Yang bertakuk yang ditebang, yang bergaris yang dipahat berarti sudah menurut aturan (adat) yang biasa


Yang dikandung berceceran, yang dikejar tiada dapat berarti barang yang sudah dimiliki hilang atau habis, sedangkan yang dicari tidak didapat


Yang dikejar tiada dapat, yang dikandung berceceran berarti karena mengharapkan keuntungan yang lain, yang sudah ada binasa dan habis


Yang dikejar tidak dapat, yang dikandung berceceran berarti yang diharapkan tidak diperoleh, bahkan yang telah ada menjadi hilang


Yang merah saga, yang kurik kundi berarti yang indah dan yang baik ialah budi bahasa, bukan rupa atau wajah


Yang rebah ditindih berarti yang sudah celaka (miskin) bertambah celaka (miskin)


Yang secupak takkan jadi segantang berarti sesuatu yang sudah pasti (tidak dapat diubah lagi)


Yang sesukat tak akan jadi segantang berarti nasib orang tidak dapat diubah


Yang teguh disokong, yang rebah ditindih berarti yang sudah kuat (kaya dan sebagainya) dibantu, sedang yang lemah (miskin dan sebagainya) ditindas


Demikian arti, makna, pengertian dan definisi dari istilah di bawah tangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan juga rangkuman dari berbagai sumber lainnya.

Semoga dapat bermanfaat. Anda dapat memberikan kritik dan saran melalui halaman Hubungi Kami.

Terima kasih